PADA suatu bening pagi
tiga puluh november tahun seribu sembilan ratus dua puluh
matahari menyepuhkan sinar
angin sepoi menyampaikan kabar
untuk keluarga sederhana Kampun Behrang Ulu
daerah Tanjung Malim negeri Perak
seorang putera dilahirkan.
Kecilnya bernama Abdullah Sani bin Raja Kechil
besarnya bergelar AHMAD BOESTAMAM.
Berkat keramat bumi tercinta
gunung sungai langit laut dan udaranya
besarlah putera bangsa dalam semangat pahlawan
melihat derita bangsanya dalam kemiskinan
melihat bijih timahnya diambil orang
melihat susu getahnya habis dicuri
melihat kayu balaknya terus dirompak
melihat bumi minyaknya tembus digali
sedang bangsanya papa kedana
hidupnya merempat si marhaen hina.
Maka bergurulah ia pada pengalaman
bergurulah ia pada sejarah
bergurulah ia pada kehidupan rakyat
Ditimbanya ilham dari manusia-manusia besar
Washington, Jefferson, Rousseau,
Nehru, Nasser, Sukarno… dan puluhan lagi
juga Subash Chandra Bose yang mengilhamkan nama Boestamam.
(ii)
Langit dunia pun dibakar api kemerdekaan
Asia bergolak, di mana-mana rakyat bangkit melawan
gelombang raksasa merempuh benteng penjajahan
merdekalah India, lahirlah Pakistan, bebaslah Filipina
muncullah Burma dan semaraklah revolusi Indonesia….
Pemuda Boestamam muncul dengan Testament Politik API:
Merdeka dengan Darah
Keras lawan keras, lembut lawan lembut.
Bersama teman-teman, pahlawan,
kaugabungkan tenaga muda dalam API membara
menyerak mercik menyadap semangat bangsa
sebaris lalu sebaris tumbuh sebaris tiba.
Boestamam, kau berdiri di barisan paling depan
mengibarkan bendera merdeka
yang menakutkan mereka yang berjiwa hamba.
Dan pintu penjara pun dibuka
untuk dipenuhi oleh pahlawan bangsa:
tinggallah anak-anak, tinggallah isteri
bertahun kauhadapi derita sengsara ini.
Ia bisikkan pada isteri yang hampir menangis
simpan air mata, sedanmu jangan mengiris
aku pergi untuk waktu yang tak pasti
kuatkan hati, relakanlah aku pergi.
Boestamam, penjara demi penjara kaumasuki
derita demi derita di sekeliling pagar berduri
selama hidupmu lebih dari 5,745 hari
kaurebahkan dalam penjara berduri
selama ribuan hari lagi kaupikul beban rasa
kepedihan derita hidup keluarga
rindu pilu isteri dan putera-putera tercinta
namun tidak ada kata menyerah
meski tawaran kemewahan datang mencurah.
(iii)
Bertuahlah bumi timah negeri Perak ini
melahirkan barisan putera gagah berani
pahlawan tanahair yang mengabdikan diri
untuk kedaulatan negara untuk martabat bangsa
Dari Datuk Maharajalela yang memerahkan Pasir Salak
membawa kepada nama-nama besar pahlawan kebangsaan
Dr. Burhanuddin Al-Helmy, Zulkifli Muhammad,
Aminuddin Baki, Ahmad Boestamam dan beberapa lagi
menjulang tinggi ke puncak Semanggul
melayah rendah ke lembah Kinta
bagaikan cendana dan harum kasturi
bagaikan cempaka gunung menyebarkan wangi
jauh menjangkau ke seluruh pelosok persada nusantara
mengarakkan mega kesumba seribu warna.
(iv)
Pelabuhan sepi keranda sudah bertolak
sayup-sayup suara pidatonya dilambung ombak
benarkah pisang emas dibawa belayar
sungguhkah pulau pandan jauh ketengah?
Boestamam
putera besar tanahair
namamu terpahat di gerbang sejarah
pejuang kemerdekaan dan keadilan
budayawan dan sasterawan
ahli fikir dan negarawan.
Harum semerbak bau kasturi
kemboja merah mekarlah berseri
kekal semarak perjuangan berani
Tuhan pengasih selalu merahmati.
(1983)
